• MTSS JEUMALA AMAL
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

Akibat Tidak Membuat Tugas

Oleh: Syauqi, S. Ag. M. Pd

Guru Bahasa Inggris di MTs Jeumala Amal

Umri adalah seorang anak berusia 11 tahun. Dia pandai bergaul dan murah senyum sehingga disukai kawan-kawannya. Dia duduk di bangku Sekolah Dasar kelas V. Sekolahnya berjarak 20 menit dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Namun Umri sering pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda yang bisa ditempuhnya 10 menit perjalanan.

Umri bukan termasuk siswa berprestasi. Namun dia juga tidak ketinggalan dalam pelajarannya. Umri mempunyai satu kebiasaan yang tak baik, yaitu tidak pernah mengerjakan sendiri tugas yang diberikan guru. Dia selalu meminta contekan kepada kawan-kawannya. Maka tidak heran, bila setiap ada tugas dari guru, Umri selalu datang lebih awal ke sekolah agar mempunyai kesempatan untuk menyalin contekan tugas kawannya ke dalam bukunya sebelum bel masuk berbunyi. Dengan begitu Umri kerap lolos dari hukuman berdiri di depan kelas karena tidak membuat tugas.

Suatu hari, Umri terlambat bangun tidur. Dia bergegas mandi dan sarapan lalu mengayuh sepeda dengan cepat agar tiba di sekolah sebelum bel berbunyi. Keringat yang membasahi baju tidak dihiraukan. Dia terus mendayung sepeda agar cepat sampai ke sekolah untuk bisa meminta contekan tugas pelajaran matematika.

Seberkas senyum terhias di bibir Umri saat ia mencapai pintu gerbang sekolah. Umri memarkirkan sepedanya di samping sekolah dan berlari menuju kelas untuk mencari sahabatnya yang sudah selesai membuat tugasnya. Namun sialnya, bel masuk berbunyi ketika Umri sudah mencapai pintu kelas. Umri lebih panik lagi saat melihat guru matematika sudah keluar dari ruang kantor guru menuju ke dalam kelasnya, sedangkan Umri belum sempat meminta contekan tugasnya.

Semua siswa dan siswi duduk dengan rapi saat guru matematika memasuki ruangan kelas. Setelah memberikan kata pengantar, pak guru matematika memeriksa satu persatu siswa yang telah membuat tugas yang diberikan tempo hari. Pak guru mulai berjalan ke jejeran bangku paling depan dan mulai menanyakan tugasnya. 

Umri yang duduk di bangku barisan belakang sangat gelisah. Namun hatinya sedikit lega saat pak guru menemukan seorang siswa lain yang tidak membuat tugas. Umri mendengar kawannya menjelaskan bahwa tugasnya tertinggal di rumah. Tak lama kemudian Umri melihat siswa tersebut keluar dari ruangan kelas.

Umri tidak mengetahui kalau pak guru menyuruh siswa tersebut untuk mengambil tugas yang tertinggal di rumahnya. Yang terlintas dalam pikiran Umri adalah murid yang tidak membuat tugas, disuruh keluar dari ruangan kelas. Selain itu Umri terinspirasi untuk memberi alasan yang sama dengan kawannya itu.

Dengan begitu, Umri menjadi sedikit tenang ketika pak guru tiba di bangkunya. Saat pak guru menanyakan tugas, Umri langsung menjawab dengan lancar bahwa tugasnya tertinggal di rumah. Dengan jawaban itu, Umri berharap pak guru menyuruhnya keluar seperti temannya tadi. Namun ternyata Pak Guru menyuruh Umri keluar dari ruang kelas untuk mengambil tugasnya yang katanya ketinggalan di rumah. Saat itu Umri baru sadar, ternyata kawannya tadi bukan disuruh keluar untuk bermain-main seperti yang Umri pikirkan tadi, melainkan disuruh pulang ke rumah untuk mengambil tugasnya. Mengetahui hal itu, Umri langsung pucat dan takut. Umri hanya duduk diam sambil menundukkan kepala di bangkunya. Karena tugasnya memang belum dikerjakan.

Keringat dingin membasahi baju Umri tatkala terlintas dalam pikirannya bahwa pak guru akan memarahinya. Namun ternyata pak guru hanya menyuruh Umri menyelesaikan tugasnya yang belum dibuat. Hati Umri berkata dalam hatinya betapa mudahnya hukuman itu.

Umri langsung membawa buku cetak, buku tulis, dan pena menuju tempat yang ditunjuk oleh pak guru, yaitu di depan kantor guru. Di sana sudah ada sebuah meja dan bangku yang biasa digunakan oleh guru piket. Namun hari itu Umri duduk di situ untuk mengerjakan tugasnya.

Hukuman seperti itu memang tidak membuat Umri sakit secara fisik, tetapi dia merasakan malu yang luar biasa kepada teman-temannya, terlebih lagi rasa malu terhadap guru-guru yang bertanya setiap melewati tempat duduk Umri. Selain itu, banyak juga siswi-siswi melihatnya sambil tersenyum-senyum dari balik jendela kelas.

Akhirnya Umri pasrah menerima hukumannya. Untuk menutupi rasa malunya, Umri hanya bisa senyum-senyum masam saja. Pada saat itu, Umri berjanji pada dirinya untuk tidak mengulangi kebiasaan buruknya itu. Ia akan membuat tugas sendiri di rumah pada masa yang akan datang.

Komentari Tulisan Ini